WASPADA ALIH FUNGSI LAHAN

October 13th, 2011 by soedwi

 

Jumlah penduduk di perkotaan diperkirakan mencapai sekitar 56 persen pada tahun 2015 dan sekitar 65 persen pada tahun 2025. Mengacu pada Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2010 tentang RPJM Nasional 2010 – 2014, pertumbuhan kota-kota saat ini terus berkembang di Indonesia. Sebaran penduduk menunjukkan tingkat kepadatan penduduk terpusat di kota-kota besar dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Sebagian besar penduduk terpusat di wilayah Jawa Bali, yaitu sekitar 60 persen dengan luas wilayah hanya sekitar 7 persen dari total wilayah nasional. Secara fisik, hal ini antara lain ditunjukkan oleh: (1) meluasnya wilayah perkotaan karena pesatnya perkembangan dan meluasnya fringe-area; (2) meluasnya perkembangan fisik perkotaan di kawasan ‘sub-urban’ yang telah ‘mengintegrasi’ kota-kota yang lebih kecil di sekitar kota intinya dan membentuk konurbasi yang tak terkendali; (3) terjadinya reklasifikasi (perubahan daerah rural menjadi daerah urban, terutama di Jawa); (4) kecenderungan tingkat pertumbuhan penduduk pusat kota menurun, sedangkan di daerah sekitarnya meningkat (terjadi proses ‘pengkotaan’ kawasan sekitar).

 

Kecenderungan perkembangan semacam ini berdampak negatif (negative externalities) terhadap perkembangan kota-kota metropolitan, besar dan menengah itu sendiri, maupun di wilayah pinggiran kota. Dampak negatif yang ditimbulkan antara lain adalah: (1) terjadinya eksploitasi yang berlebihan terhadap sumber daya alam di sekitar kota-kota besar dan metropolitan untuk mendukung dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi; (2) terjadinya secara terus menerus konversi lahan pertanian produktif menjadi kawasan permukiman, perdagangan, dan industri; (3) menurunnya kualitas lingkungan fisik kawasan perkotaan akibat terjadinya perusakan lingkungan dan timbulnya polusi; (4) menurunnya kualitas hidup masyarakat di perkotaan karena permasalahan sosial-ekonomi, serta penurunan kualitas pelayanan kebutuhan dasar perkotaan. Walaupun selain itu masih ada kemungkinan implikasi lain yang bersifat netral dan positip (co-exist dan cooperative). Arahan RPJMN antara lain adalah mengendalikan pertumbuhan pusat-pusat permukiman perkotaan dan perdesaan yang berpotensi mengganggu dan mengancam keberadaan kawasan produksi pangan melalui pengendalian aspek kependudukan dan kegiatan sosial-ekonominya.

Daerah Surakarta yang mencakup Kota Surakarta dan Kabupaten-kabupaten di sekitar merupakan memiliki kota-kota yang juga mengalami pertumbuhan. Pada hampir semua pinggiran kotanya terlihat meluas dengan munculnya kawasan-kawasan perumahan baru atau pun industri dan perdagangan. Potensi untuk terus berkembang pesat cukup besar terutama dengan adanya jalur-jalur masuk dari segala penjuru yang menarik terjadinya konversi lahan terbuka menjadi lingkungan terbangun. Seperti yang terjadi di Kota Surakarta, di sebelah timur atau arah ke Sragen dan Karanganyar terdapat kawasan industri, perdagangan dan permukiman di sekitar tepian Bengawan Solo dan Palur. Di sebelah selatan atau arah Sukoharjo dan Wonogiri terdapat kawasan permukiman baru dan perdagangan. Di sebelah barat, barat laut dan utara juga sudah terlihat banyak perumahan baru. Perumahan dan permukiman baru tersebut diketahui banyak bermunculan pada satu-dua dekade terakhir.

 

Urban Management

October 11th, 2009 by soedwi

The planners and managers of the cities of the developing world face an enormous task.

The world’s urban population is growing at a phenomenal rate: in some cities more than a quarter of a million people are added to the total each year, overwhelming all the effort to improve conditions, while cities which are already larger than any known in the past continue to expand without any apparent limit.

This poses a huge challenge to those responsible for the management of urban development and the provision of services

Lebih lanjut klik: realisme-kota

Paradigma Budaya dan Filsafat di Balik Arsitektur

July 8th, 2009 by soedwi

UNTUK MELENGKAPI PANDANGAN LATAR BELAKANG DAN CORAK KEBUDAYAAN YANG DICERMINKAN DALAM ARSITEKTUR DI INDONESIA PERLU DIKETAHUI PARADIGMA BUDAYA DAN, LEBIH JAUH, FILSAFATNYA

PERGESERAN FOKUS BUDAYA

  • ◙ Theosentrisme:
  • Dogma agama dan kekuasaan.
  • ◙ Utopianisme:
  • Khayalan, impian.
  • ◙ Positivisme:
  • Dominasi kerja ilmu pengetahuan atau ilmu-ilmu positif.
  • ◙ Pragmatisme:
  • Kebenaran dituntun oleh pengalaman empiris langsung sehingga bermanfaat.
  • ◙ Fenomenologi:
  • Pengamatan pada yang nampak untuk menemukan hakekat, misalnya adanya pluralitas.

FILSAFAT TIMUR DAN BARAT

ADA PERSAMAAN, NAMUN MEMPUNYAI CIRI YANG BERLAWANAN

Lebih lanjut klik: filsafat-timur-dan-barat

Architecture Glossary

June 27th, 2009 by soedwi

Arsitektur – rumah kita, bangunan di sekitar kita dan lingkungannya – memang bukan hanya soal statika bangunan agar kokoh dan tidak roboh bila ada gempa, bukan cuma harus nikmat ventilasinya dan elok efek psikologis interpretasi ruang-ruangnya; bukan pula hanya menyangkut masalah pragmatis denah permukiman, penyusunan ekonomisnya, zoningnya, akan tetapi selalu menyentuh dimensi yang telah disentuh pula oleh alam raya, dimensi citra.

Citra yang menunjuk kepada sesuatu yang transendens, yang memberi makna, yang membuat kita melihat beyond atau apa yang di balik yang ada, mengatasi wadaq material atau hitungan ekonomi belaka. Oleh karena itu kita (arsitek dan pemberi tugas arsitek) ada kewajiban tugas serius mengolah arsitektur yang lebih lengkap, lebih utuh dalam arti wastu, dalam suatu total architecture.

Sumber: Mangunwijaya, YB. Wastucitra. Gramedia, Jakarta, 1988. p. 326-350

Lebih lanjut klik: architecture-glossary

Kota Terintegrasi

June 19th, 2009 by soedwi

Kawasan kota sering ditandai dengan kompleksitas hubungan antar unsur-unsurnya. Konflik kepentingan serta ketidak-mampuan daya dukung kota pun terjadi. Kalau setiap kepentingan berjalan sendiri (Patterson, 1979: 9; Warren, 1993: 203) kawasan kota bisa tidak terintegrasi dan menurunkan kualitasnya.

Kawasan kota yang terintegrasi

adalah kawasan yang terpadu membentuk satu sistem keseimbangan yang mantap. Sejalan pendapat Trancik (1986: 219), kawasan kota terintegrasi jika secara fungsi unsur-unsurnya membentuk jalinan sinergis, secara fisik memiliki keteraturan struktur dengan memperhatikan norma pelaku, konteks budaya dan alamnya. Kawasan kota yang terintegrasi dapat memperbaiki mutu kawasan seperti mendaya-gunakan sumber daya, menciptakan keteraturan ruang dan fisik serta menjaga karakter setempat.

lebih lanjut klik: kota-yang-terintegrasi

Pinggiran Kota

June 12th, 2009 by soedwi

Ada keinginan untuk dapat mengendalikan pertumbuhan kota dalam suatu ‘sistem wilayah pembangunan’ yang compact, nyaman, efisien dalam pengelolaan, serta mempertimbangkan pembangunan yang berkelanjutan. Salah satu kegiatan pokok yang akan dilakukan di antaranya adalah penerapan ‘land use and growth management’ pada pinggiran kota yang menekankan pada ‘infill development’, dengan intensitas bangunan vertikal yang cukup tinggi, serta membatasi ‘sub-urban sprawl,’ termasuk upaya pencegahan konversi lahan pertanian produktif disertai dengan penerapan ’zoning regulation’ secara tegas, adil dan demokratis.

lebih lanjut klik: fringe-area

Kontekstualisme – Arsitektur dan Perancangan Kota

June 5th, 2009 by soedwi


Kontekstual adalah situasi yang tidak memungkinkan sebuah obyek ada di suatu tempat tanpa mengindahkan obyek-obyek yang sudah ada di tempat itu terlebih dahulu. Perancangan kontekstual dengan demikian memusatkan perhatian terutama pada karakteristik obyek-obyek yang sudah ada, ketimbang pada obyek yang akan dibuat. Hal itu sejalan dengan asal katanya, yaitu “konteks” yang berarti “semua yang mendahului hadirnya sesuatu”. (Budi Sukada, 1993)

Lebih lanjut klik: Kontekstual

Kebudayaan dan Arsitektur

May 11th, 2009 by soedwi

Manusia membangun bangunan disesuaikan dengan kebutuhan, memperhatikan fungsi bangunan, ketersediaan bahan, kondisi site serta iklim.

Manusia kemudian menambahkan sentuhan artistik dan kreativitas berdasarkan pemahaman teknik rekayasa.

Gaya bangunan kemudian ditentukan oleh kesempatan yang diterima (coincidental concurrence) dalam konteks waktu, tempat, idea atau filosofi.

lebih lanjut klik: kebudayaan-dan-arsitektur

Kauman di Solo

April 28th, 2009 by soedwi

Kauman adalah kawasan permukiman setingkat kelurahan. Kawasan ini terletak di bagian utara dari kawasan Keraton Kasunanan Surakarta yang merupakan kawasan pusat kota Surakarta. Lokasinya berbatasan dengan Jalan Slamet Riyadi, Alun-Alun Utara, Jalan dr Rajiman dan Pasar Klewer, serta Jalan Yos Sudarso.

Kauman sejak semula dikenal sebagai hunian untuk santri dan abdi dalem Keraton Kasunanan – yakni para ulama – yang bertugas untuk meningkatkan ukhuwah islamiyah di lingkungan Keraton. Ini terkait pula dengan keberadaan Mesjid Agung di tempat tersebut.

Lebih lanjut klik: kauman

Human Needs

April 27th, 2009 by soedwi

Kebutuhan Dasar Manusia

Physiological Needs: the basic human need is for survival : needs life-sustaining inputs of oxygen, food, and water. also needs to be able to sleep and to move around a territory to obtain the basic necessities of life.

Safety/Security Needs: There is a need for harm-avoidance among all higher species of animals, etc.

Affiliation Needs: All individuals needs to know who they are and to recognize themselves as distinct human beings-as having distinct identities.

Esteem Needs: All people need to have a stable, firmly based, usually high evaluation of themselves (competence, confidence, independence, and freedom of self expression).

Self-Actualizing Needs: “individualization”, the process of striving toward individuality and self-realization

Cognitive Needs: One has to have some understanding of the world in order to survive in it in other than in a purely externally nurtured / cared for / cultivated state.

Aesthetic Needs: People have two sets of aesthetic needs: for beauty and for self-expression.

Lebih lanjut klik: skemahumanneeds